Reaksi Oksidasi Reduksi

Video Lagu Kimia Reaksi Oksidasi Reduksi

 

  1. a.      Konsep Reaksi Oksidasi-Reduksi Berdasarkan Penggabungan dan Pelepasan   Oksigen

Oksidasi melibatkan penggabungan oksigen pada suatu zat. Zat yang mengalami oksidasi (menerima oksigen) dinamakan reduktor. (Waldjinah, 2010)

Contoh :

  1. Pembakaran metana

CH4 (g)  +  2O2 (g)                                CO2(g)   +   2H2O( l )

CH4 bertindak sebagai reduktor. Atom karbon dalam metana menerima oksigen membentuk  CO2. Sementara itu, atom hidrogen dalam metana juga menerima oksigen membentuk H2O.

  1. Pembakaran Pita Magnesium

2Mg(s)  +    O2(g)                           2MgO(s)

Mg bertindak sebagai reduktor karena menerima oksigen menjadi MgO.

Reaksi reduksi merupakan reaksi pelepasan oksigen dari suatu zat (unsur maupun senyawa). Adapun zat yang mengalami reduksi (kehilangan oksigen) disebut oksidator.

Contoh :

  1. Reduksi bijih timbal menjadi timbal murni

PbO(s)  + C(s)                             Pb(s)  +  CO (g)

PbO bertindak sebagai oksidator. PbO melepas oksigen menjadi Pb.

  1. Reduksi bijih besi menjadi besi murni

FeO(s)  +  CO(g)                            Fe(s)  +  CO2(g)

FeO bertindak sebagai oksidator. FeO melepas oksigen  menjadi Fe.

Reaksi oksidasi-reduksi selalu berlangsung secara bersamaan. Suatu reaksi, jika oksidator mengalami reduksi, pasti ada reaksi oksidasi yang mengiringnya.

Contoh :

Reaski oksidasi-reduksi antara logam seng dengan timbal (II) oksida.

Zn(s)      +      PbO(s)                    ZnO(s)   +    Pb(s)

menerima oksigen

(oksidasi)

kehilangan oksigen

(reduksi)

Zn bertindak sebagai reduktor.

PbO bertindak sebagai oksidator.

 

  1. b.      Konsep Redoks Berdasarkan Pelepasan  dan Penerimaan Elektron

Reaksi oksidasi-reduksi tetap dapat berlangsung meskipun tidak ada oksigen yang terlibat didalam reaksi oksidasi-reduksi dapat terjadi karena adanya pelepasan dan penerimaan elektron. (Waldjinah, 2010)

Menurut konsep pelepasan dan penerimaan elektron, reaksi reduksi merupakan reaksi penerimaan elektron. Oksidator adalah zat yang menerima elektron dari zat lain yang melepaskan elektron.

Contoh :

Setengah reaksi reduksi

2H+ (aq)   + 2e-                    H2(g)

Ion H+ bertindak sebagai oksidator karena menerima elektron .

Reaksi oksidasi merupakan reaksi pelepasan elektron. Reduktor adalah zat yang yang mengalami pelepasan elektron.

Contoh :

Setengah reaksi oksidasi

Mg(s)                       Mg2+   + 2e-

Atom Mg bertindak sebagai reduktor karena melepas elektron.

Reaksi oksidasi-reduksi dengan melepas dan menerima elektron berlangsung secara bersamaan. Setengah reaksi oksidasi atau reduksi hanya untuk memudahkan dalam mempelajari pelepasan atau penerimaan eletron suatu suatu zat. Ketika suatu zat mengalami oksidasi dengan cara melepaskan elektron, maka zat lain dalam reaksi akan menerima elektron tersebut sehingga mengalami reduksi.

Contoh :

Reduksi    :     2H+ (aq)  + 2e-                                 H2 (g)

Oksidasi   :     Mg(s)                       Mg2+ (aq)   +    2e-

Reaksi oksidasi – reduksi :

Mg(s)   +    2H+ (aq)                  Mg2+ (aq)   +   H2(g)

melepaskan 2e-

menerima 2e-                                          

  1. c.       Konsep Redoks Berdasarkan Peningkatan dan Penurunan Bilangan Oksidasi

Bilangan oksidasi adalah muatan yang dimiliki oleh suatu atom akibat melepaskan atau menerima elektron untuk mencapai kestabilan seperti gas mulia. Penurunan atau peningkatan bilangan oksidasi  digunakan sebagai dasar untuk menentukan reaksi reduksi atau oksidasi. Apabila suatu reaksi mengalami penurunan bilangan oksidasi, reaksi tersebut dinamakan reaksi reduksi. Reaksi oksidasi terjadi ketika suatu reaksi mengalami peningkatan bilangan oksidasi. (Waldjinah, 2010)

Contoh :

Mg(s)   +  CuO(aq)                      MgO(aq)   +   Cu

0            +2       oksidasi            +2                      0

reduksi

Berdasarkan contoh diatas, atom Mg bertindak sebagai reduktor karena mengalami peningkatan bilangan oksidasi dari 0 menjadi +2. Sebaliknya, senyawa CuO bertindak sebagai oksidator karena mengalami penurunan bilangan oksidasi dari +2 menjadi 0. Peningkatan bilangan oksidasi (reaktan oksidasi) dan penurunan bilangan oksidasi (reaksi reduksi) selalu terjadi bersamaan dalam suatu reaksi kimia.

  1. d.      Cara Menentukan Bilangan Oksidasi, Oksidator, dan Reduktor dalam Reaksi Oksidasi-Reduksi

Perubahan bilangan oksidasi dapat digunakan untuk menentukan rekasi oksidasi-reduksi meskipun dalam zat yang komplek. Apabila dalam suatu reaksi tidak terjadi perubahan bilangan oksidasi, bearti bukan reaksi oksidasi-reduksi. Perubahan bilangan oksidasi suatu zat dapat diketahui apabila bilangan oksidasi setiap zat pada reaktan dan produk telah ditentukan. Jika bilangan oksidasi pada reaktan dan produk, berbeda bearti terjadi perubahan bilangan oksidasi. (Waldjinah, 2010)

Penentuan bilangan  oksidasi mengikuti beberapa aturan tertentu. Aturan tersebut dijelaskan sebagai berikut :

  1. Bilangan oksidasi unsur dalam keadaan bebas adalah nol.

(unsur bebas di antaranya  Na, Al, Fe, O2, I2, Br2, S8, H2, atau Cl2)

Contoh :

Bilangan oksidasi Br dalam Br2 = 0

Bilangan oksidasi Na dalam Na = 0

  1. Bilangan oksidasi ion dari suatu atom (monoatom) sama dengan  muatan ionnya.

Contoh :

Bilangan oksidasi Mg dalam Mg2+   = +2

Bilangan oksidasi I dalam I-  = – 1

  1. Bilangan oksidasi unsur logam dalam senyawanya selalu bertanda positif yang besarnya tergantung elektron valensinya (letak golongan dalam sistem periodik unsur)

Contoh :

Bilangan oksidasi golongan IA (Li, Na, K, Rb, Cs) = +1

Bilangan oksidasi golongan IIA (Be, Mg, Ca, Sr, Ba) = +2

Khusus untuk beberapa unsut transisi memiliki bilangan oksidasi yang bervariasi.

                                  Tabel 2.2 Beberapa Unsur Transisi dalam Senyawanya dengan Variasi Bilangan Oksidasinya

Unsur

Bilangan Oksidasi

Cr

Fe

Co

Pt

Pb

Sn

Hg

Cu

Au

+2 dan +3

+2 dan +3

+2 dan +3

+2 dan +4

+2 dan +4

+2 dan +4

+1 dan +2

+1 dan +2

+1 dan +2

 

 

 

 

 

 

  1. Bilangan oksidasi atom H dalam senyawa adalah +1 , kecuali pada senyawa hibrida (NaH, LiH, dan CaH2).

Contoh :

Bilangan oksidasi H dalam H2S  =  +1

Bilangan oksidasi H dalam LiH = -1

  1. Bilangan oksidasi atom O dalam senyawa adalah – 2.

Contoh :

Bilangan oksidasi O dalam H2O  =  -2

Perkecualian :

Bilangan oksidasi O dalam senyawa peroksida (H2O2, Na2O2, dan BaO2)  =  -1

Bilangan oksidasi O dalam senyawa superoksida (KO2 dan RbO2)  =

-

Bilangan oksidasi O dalam  OF2  = + 2

  1. Jumlah total bilangan oksidasi (BO) atom-atom dalam senyawa netral adalah nol .

Contoh :

Bilangan oksidasi HNO3  =  0

Bilangan oksidasi H2SO4  =  0

  1. Jumlah total bilangan oksidasi (BO) atom-atom dalam ion poliatom sama dengan muatan on tersebut.

Contoh :

Bilangan oksidasi H2PO32- = -2

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s